posted by misslav on Nop 20
Tanggal 16 Juni 2005 dan tanggal 9 Juni 2007 merupakan hari yang istimewa bagiku. Di hari tersebut genaplah kuraih peran sebagai seorang ibu. Kedua anakku lahir di Kota pahlawan Surabaya. Sebuah kota yang identik dengan kepatriotan arek-arek Suroboyo dalam pertempuran sengit di bawah komando Bung Tomo melawan Belanda. Kala itu Hotel Oranye, Jembatan Merah bahkan setiap sudut kota Surabaya merupakan saksi bisu sejarah perjuangan masyarakat kota tersebut.
Sepintas mungkin tak ada kaitannya antara keheroikkan arek-arek Suroboyo dengan kedua ‘arek-arek Suroboyo’ cilik yang telah lahir dari rahimku tersebut. Tapi yang menjadi catatan penting setidaknya untuk kehidupanku pribadi adalah proses kelahiran mereka yang begitu heroik pula. Anak Sulungku Muayyad Iffah Hudaya lahir genap 9bulan kandungan pada pukul 9 pagi, tepat 2jam setelah aku tiba di Rumah Sakit. Saat itu rentetan proses bagiku sangatlah heroik karena dalam persalinan pertamaku itu semua begitu cepat terjadi. Tak ada tanda-tanda berarti yang bisa kurujuk sebagai seorang calon ibu. Tak ada flek maupun ketuban pecah yang lazimnya mengawali sebuah persalinan.
Semua normal sehingga harus kujalani pagi itu dengan rutunitas kaum ibu yaitu pergi ke Pasar. Namun aneh saat berbelanja aku tiba-tiba mengalami kontraksi dan mules yang tak lazim setiap 10 menit. Bisa dipastikan setiap ku berpindah tempat berbelanja rasa mules itu selalu membuatku tak nyaman. Sampai akhirnya dengan berbisik aku berkata kepada ibu mertuaku: “ Bu, sepertinya sudah tiba masa persalinan, yuk kita ke Rumah Sakit sekarang!” ajakku kepada beliau. Kontan Mertuaku ini panik dan segera memanggil becak lalu mengantarku pulang mengambil tas lengkap untuk persalinan yang sudah kusiapkan sejak usia kehamilan 8bulan. Becak melaju cepat, Taksi pun telah tiba dan segera melarikan aku ke Rumah Sakit terdekat. Setibanya di sana pukul 7, kucari sendiri ruang bersalin dengan bertanya pada Satpam yang sedang bertugas. Yang kuingat air muka Satpam itu sangat aneh memandangku yang ‘ngeloyor’ berjalan sendirian di lorong Rumah Sakit seolah tak ada yang menemani. Padahal aku sendiri tak sendirian karena Ibu mertuaku mendampingiku namun kupamiti beliau untuk segera mencari ruang bersalin karena saat itu beliau sedang membereskan pembayaran jasa Taksi kami di Parkiran Rumah Sakit. Beres semua, selang 1jam aku sudah di berbaring menghadap kiri di kasur Rumah Sakit. Segala prosedural administrasi Rumah Sakit pun sudah kulakukan, termasuk ganti baju bersalin sendiri. Semua begitu santai tanpa kepanikan di persalinan pertamaku saat itu. Suamiku yang sedang di luar kota belum tiba, praktis Ibu dan Bapak Mertuaku hanya melepas aku di balik pintu kaca ruang tunggu karena segera saja sang dokter menyiapkan peralatan medis setelah pembukaan dan kontraksi perutku yang terus ‘merangkak’ naik selang beberapa menit saja dari ‘start’ bukaan 5 di awal tadi. 2 Jam kemudian semua proses persalinan selesai. Aku telah pindah ke Kamar Nifas sedangkan bayi laki-lakiku sudah berada di Ruang Bayi. Kala itu belum lazim metode inisiasi dini jadi aku baru bertemu bayiku selepas makan siang dan setelah aku cukup istirahat. Aku hanya katakan pada dokter, jika aku siap memberikan ASI Eksklusif sebab saat ketuban pecah berbarengan ASI-ku pun telah keluar dan meminta mereka tak memberikan Air Susu Formula sama sekali.
Setali tiga uang persalinan kedua pun tak kalah heroik, Ghalizha Hadiyya Shafura lahir tahun 2007 di tengah malam yang dingin. Pukul 12 malam tidurku kembali terusik dengan rasa mulas yang sama seperti persalinan yang pertama. Pukul 01 dini hari aku segera bergegas setelah pamit dengan mertuaku sekedar menitipkan Hudaya putra Sulungku yang masih berusia 2 tahun. Bersama suami, aku melaju di atas sepeda motor menuju Rumah Sakit. Kembali lagi kubuat air muka Satpam Rumah Sakit terkejut dengan kedatangan 2 orang pasien tapi tidak dalam keadaan darurat, namun tidak juga sebagai pengunjung jika datang ke Rumah Sakit di luar jam bezuk seperti itu. Lagi-lagi kuberjalan sendiri menuju ruang bersalin, aku dan suamiku berpisah di Front Office karena dia akan mengurus prosedural administrasi Rumah Sakit. Tak ada nyeri saat berjalan, dan semua lagi-lagi kulakukan sendirian pada pukul 02 dini hari yang dingin itu. Namun si Ghiza lebih tak sabar keluar rahimku rupanya, pembukaanku saat tiba di sana sudah mencapai pembukaan 7 kata sang dokter. Pukul 4 pagi semua proses persalinanku yang didampingii suami di ruang bersalin itu pun kelar sudah. Dokter pun hanya tersenyum dan meledek suamiku melihat riwayat bersalinku salama ini: “Pak, kalau tiap bersalin 2 jam beres gini, saya juga mau deh punya anak banyak”, katanya. Aku hanya tertawa lepas, bagiku tak ada yang istimewa. Mungkin hanya beberapa tips kehamilan ini yang akan selalu kuingat:
1. Jangan ‘overweight’ saat hamil agar bobot bayi tak besar di dalam rahim, cukuplah 3 kilo saja sehingga meminimalkan komplikasi dan berpeluang besar lahir dengan persalinan normal dalam waktu singkat.
2. Terapkan strategi makan sedikit tapi rutin namun full nutrisi. Tak perlu 2 piring untuk 2 orang… Cukuplah penuhi nutrisi harian dengan porsi nasi lengkap/cukup gizi diselingi dg segelas susu, sepotong roti, sepotong keju, beberapa batang coklat, buah-buahan,3 butir Kurma dan 1cup Ice cream.
3. Banyak2 berbicara dengan janin serjak awal kehamilan agar mereka mau mencari jalan lahirnya sendiri tanpa menyusahkan si ibu (Salah satu tahapan dlm proses Hypnobirthing)
4. Siapkan semua perlengakapn bersalin jauh2 hari agar tidak menghambat proses persalinan. Semua pun bisa kita lakukan sendiri tanpa panik saat tiba waktu bersalin.
5. Makanlah Kurma sejak 8 bulan kandungan meskipun tidak suka, karena di dalam Kuirma terkandung zat yang mampu memudahkan persalinan.
“Dan goyanglah pangkal pohon Kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah Kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu…” (QS. Maryam : 25-26)
Ya, Kurma buah kecil nan berkhasiat dengan sejuta manfaat. Semoga dapat mengingatkan kita dengan riwayat persalinan Maryam yang seorang diri bersandar pada pohon Kurma saat melahirkan Nabi Isa as. Semoga dibalik semua kisah dapat terpetik hikmah untuk kita ambil pelajaran tentang kehidupan.

Nopember 20th, 2009 at 21:48
pertamaxxxxx… :D, nanti ku baca lagi …
Nopember 20th, 2009 at 22:11
waaah..tulisanya sangat mencerahkan..semoga saja istriku nanti bisa sprti mbak ndaru..hehehe syukron nih mbak buat tips2 nya…
Nopember 23rd, 2009 at 09:26
salam kenal,,
selamat atas kelahiran putra mbak Ndaru,dan treima kasih atas ilmu baru yang saya dapat disini.
Nopember 24th, 2009 at 20:42
Assalamu’alaikum wr.wb. Thx kisahnya sgt mmotivasi & mncerahkan q yg saat ini hmil 8bln anak ke-3. Dg pngalaman sblmnya 2 kali persalinan dg induk & jahitan (10&8) mmbuat aq phobi tp stlh mmbaca kisah ini ada hal yg mmbuatku kuat & PD mnghadapi persalinan.
Desember 11th, 2009 at 09:55
tips yang bagus buat aku yang baru hamil dan anak pertamaku
Desember 16th, 2009 at 20:29
@Saifuna : Amiin… Gak hanya istrimu kelak, tapi semoga semua Muslimah dan perempuan pada umumnya gak perlu lagi khawatir menghadapi proses persalinan dan semakin PD untuk memilih persalinan secara Normal tanpa embel-embel tindakan medis yang berlebihan he3
Desember 16th, 2009 at 20:34
@Damai : Hi3 selamat untuk masa yang telah jauh berlalu sekitar 2 tahun, bahkan 4 tahun yang lalu untuk si sulung ya mbak?? Siip gpp, seakan memang baru saja terjadi, krn baru sempet nge-review lg via tulisan. Semoga bisa bermanfaat…
Desember 16th, 2009 at 20:41
@Fitrie : Semoga bs menjadi penyemangat lagi untuk ttp berjuang melakukan persalinan secara Normal tanpa embel2 induksi, banyak jahitan ataupun komplikasi persalinan.Pun menjadi pilihan yang murah meriah dibandingkan dengan proses Cesar, Hypnobirthing, bahkan Waterbirthing yang menguras kocek. Selamat mencoba…
Desember 17th, 2009 at 11:58
@Imas: Selamat mencoba ya…Gak pake takut ‘n gak pake panik deh setelah mengetahui pengalamanku ini. Semua bisa berjalan dengan wajar koq, selama selalu mau membuka diri dengan berbagai informasi seputar persalinan mesQ dr pengalaman persalinan orang yg syeerem sekalipun agar tdk mengulanginya lg di kmd hari:)
Januari 15th, 2010 at 16:19
aku ngga setuju tuh ma yang no 1…
tu kan dah dari sononya mba….
Januari 16th, 2010 at 14:30
@Yummi: Apa yang dari ’sono’nya? Berat badan si Ibu maupun Janin kita loh yg menentukan? ‘Overwight’ bs dicegah koq dg makan sedikit tp rutin ‘n pilih makanan2 full nutrisi.Point 1 ini m’kritisi pola pikir para ‘Bumil’(Ibu Hamil)yg t’lanjur b’pikiran bhw anak sehat jk kiloan Janin mencapai 3,5-4Kg, shg mrk berpikir saat hamil harus makan 2porsi setiap harinya. Tau2 janin kebesaran (gak muat dg panggul Ibu). Pun BB si Ibu jelang b’salin mampu menembus 20an Kg. Ahirnya bny yg kepayahan teramat sangat, alami Komplikasi persalinan, Cesar,dan risiko2 Persalinan lain.Blm lg BB sulit turn pdhl baru anak pertama tuh. Jd cukup mengejar berat Janin saja dg cara penyerapan makanan scr efektif jgn si ibunya ikutan ‘melar’ 2x lipat hi3
Mei 30th, 2010 at 06:32
work articles…
I just discovered your megablog while searching for some text and news. The layout is quite wonderful and I must appreciate the effort you do in posting useful stuff here, thank you mate Super Articles Enjoy!….
Mei 31st, 2010 at 16:38
You’re Welcome…
I very suprise when read this testimony. Thank you for you’re appreciate:-)
Juni 20th, 2010 at 15:54
cerita yang bagus banget, namun ada beberapa cerita yang saya rasa masih seputar keseharian, apakah ibu termasuk aktif atau hanya dirumah saja..kalau aktif tolong di uraikan seputar kegiatan sehari2…karena saya termasuk ibu aktif sering naik motor dan baru hamil jadi ingin cerita lengkap. matur suwun
Juni 20th, 2010 at 22:53
Trimakasih ya Bunda Dian atas kunjungannya…
He3…saat menulis Blog judul ini saya hanya ingin menitikberatkan pd tips seputar kehamilan dan efek buah Kurma saja. Tapi stlh dipikir2 ada baiknya diberitahu kronologis jelang persalinan agar bnr2 dapat dipahami tips ini masih sesuai medis/tdk terbawa mitos dan bisa diterapkan oleh ibu Hamil lainnya krn nyata pernah terjadi pada 2kehamilan saya.
Soal keseharian kini memang saya sbg IRT saja, namun dulu saat hamil pertama saya msh Mahasiswi FH di slh satu PTN di Purwokerto. Tepat waktu hamil si Sulung, saya sdg nyusun Skripsi (maklum saya ini Jilbaber yg semangat utk Menikah Dini saat kuliah ha3).Jd keseharian ya bolak/ik ketemu Dosen, naik-turun tangga di Kampus, mondar/ir Penelitian, masih ikut rapat2 organisasi kampus/Organisasi Mahasiswa Muslim lain, pulang2 wajib ngurus suami juga, ngetik Skripsi dan mesti belajar jd seorang Istri sekaligus Nyonya rumah. Saya rasa meskipun blm jd pekerja, bagi saya aktivitas mobile sdh double bahkan triple sifatnya.
Kelahiran Anak kedua pun jeda 2th saja dr si Sulung, kebetulan saya sdh bekerja salah satu Perusahaan Asuransi di Surabaya dan berkantor di Lantai 3. Otomatis aktivitas ibu hamil dg 1 Batita jg masih dominan m’habiskan jatah waktu saya 24jam/hari.
Jadi kesimpulannya apapun profesi kita bahkan sekalipun hanya seorang IRT, saya rasa ttplah padat dlm keseharian. Inilah mengapa setiap kehamilan akan slalu berisiko komplikasi, persalinan tdk lancar, Sirkum Caesar, keguguran bahkan kematian Ibu dan Bayi sehingga bnr2 butuh persiapan ekstra saat menjalani kehamilan.